Fakultas psikologi universitas kristen satya wacana



Download 29.11 Kb.
Date27.09.2021
Size29.11 Kb.

TUGAS MATA KULIAH TRAINING & DEVELOPMENT

(Jumat, 14.00-17.00 WIB)

REVIEW JURNAL

Dosen pengampu: Dewita K. Sarajar



Disusun oleh:

Nani Nadya Cintariani

802017018

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2020


Review Jurnal

“Pelatihan Manajemen Emosi Sebagai Program Pemulihan Depresi pada Remaja Korban Gempa Bumi”

Bencana alam sering terjadi dan manusia tidak dapat bersiap untuk menghindarinya. Demikian pula, telah terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 lalu di Yogyakarta dan sekitarnya, gempa bumi dengan kekuatan 5,9 SR mengguncang. Gempa tersebut menyebabkan kerugian yang cukup parah berupa material, korban fisik maupun psikologis. Kondisi yang mendadak dan menyebabkan kesedihan dan duka dapat menimbulkan trauma yang kemudian menyebabkan pengalaman psikologis negatif yang berkepanjangan pula (Harris & Howle, dalam Akbar & Afiati, 2009). Pengalaman psikologis negatif yang berkepanjangan akan menjadi semakin parah dan dapat menyebabkan stress hingga depresi. Apa yang dimaksud dengan depresi adalah gangguan mood berupa perasaan negatif yang membuat penderita merasa tertekan, putus asa, merasa bersalah, tidak berharga, tidak mempunyai harapan, tidak bergairah, apatis, dan mengalami kesedihan mendalam, yang berlangsung dalam waktu lama, serta gejala-gejala dan tanda-tanda spesifik yang secara substansial mengganggu kewajaran perilaku sehingga penderita tidak dapat berfungsi secara optimal (Beck; Lindsay & Powell, dalam Akbar & Afiati, 2009). Menurut penelitian oleh Silvia, Newman, Moffit, & Caspi (dalam Akbar & Afiati, 2009), kelompok usia yang memiliki tingkat kerentanan yang relatif tinggi untuk mengalami depresi adalah remaja.

Peneliti mendapati penelitian terdahulu dengan sekolah yang memiliki sebagian besar siswa memiliki gejala-gejala depresi. Siswa-siswa tersebut memerlukan pengelolaan emosi dan pemecahan masalah berkenaan dengan motivasi yang merujuk pada penurunan tingkah laku. Oleh karena itu, jalan yang paling tepat untuk mengatasi gejala-gejala depresi dalam proses pemulihan para siswa korban gempa bumi adalah pendeketan emosi yang condong kepada proses pengelolaan emosional-motivasional, seperti client-centered therapy, process-experiential therapy, dan emotion-focused therapy. Selanjutnya adalah manajemen emosi, sebagai program intervensi yang menekankan aspek emosional. Berikut adalah program-program manajemen emosi, yakni teknik mood monitoring dan pelatihan peningkatan ekspresi emosi. Dengan ini, peneliti berharap bahwa program manajemen emosi dapat membantu menurunkan gejala-gejala depresi pada remaja pasca gempa bumi.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, tujuan peneliti ingin mengadakan training dan penelitian adalah untuk mengetahui apakah gejala depresi pada remaja pada proses pemulihan pasca gempa bumi dapat dikurangi dengan program manajemen emosi; apakah pelatihan tersebut efektif mengurangi gejala-gejala depresi; proses manajemen seperti apa emosi yang dapat mengurangi gejala depresi; proses seperti apa yang cenderung meningkatkan gejala-gejala depresi; dan faktor-faktor apa yang menyebabkan perbedaan tersebut.

Peneliti mengadakan penelitian di SMPN 2 Piyungan, Bantul, dengan partisipan berjumlah 20 siswa kelas dua yang berusia 13-15 tahun. Berdasarkan keseluruhan partisipan, 10 di antaranya siswa laki-laki, 10 siswa perempuan, 12 orang berusia 13 tahun, 6 orang berusia 14 tahun, dan 2 orang berusia 15 tahun. Terdapat batasan karakteristik partisipan, yakni siswa adalah korban selamat dari gempa bumi Yogyakarta yang dinyatakan dengan keadaan rumah dan anggota keluarga pasca gempa bumi, termasuk kategori sedang dalam hasil tes Beck Depression Inventory , dan memiliki kemampuan manajemen emosi yang rendah berdasarkan hasil pengisian angket manajemen emosi.

Dalam proses pelatihan, peneliti memulai dengan studi pendahuluan guna asesmen kebutuhan dengan pendekatan yang diintegrasikan dari process-experiential therapy dengan emotion-focused therapy. Selanjutnya, fasilitator, ko-fasilitator, dan pengamat yang terlibat dalam pelatihan dilatih. Kemudian, angket manajemen emosi disusun, lalu peneliti melakukan wawancara secara semi-terstruktur terhadap 20 siswa yang bertujuan untuk mendapat informasi mengenai pengalaman subjek berkaitan dengan pengalaman emosional saat kejadian gempa. Pelatihan manajemen emosi yang dilakukan berjumlah delapan sesi dengan dua sesi setiap minggunya, dengan total pelaksanaan sesi selama satu bulan. Pada sesi terakhir pelatihan ini, partisipan diberikan lembar evaluasi dan posttest Beck depression Inventory guna melihat efektivitas pelatihan manajemen emosi terhadap gejala depresi para remaja korban gempa bumi. Dua minggu setelah posttest dilaksanakan, dilakukan follow up, yaitu pemberian BDI dan dilakukan wawancara dengan tujuan untuk melihat pengaruh pelatihan dan pengaplikasiannya.

Berdasarkan analisis data kuantitatif yang dilakukan, didapati bahwa pelatihan manajemen emosi dapat menurunkan depresi secara efektif pada remaja korban gempa bumi Yogyakarta, dengan penghitungan skor angket pada kelompok eksperimen yang menunjukkan penurunan sebanyak 57,2% dan pada tahap tindak lanjut sebanyak 63,1%. Sedangkan berdasarkan analisis data kualitatif didapati bahwa terdapat perbedaan proses manajemen emosi pada partisipan. Partisipan dengan penurunan skor depresi tertinggi menunjukkan pengenalan emosi dengan baik, dapat mengekspresikan emosi secara mendalam lisan maupun tulisan, menerapkan teknik relaksasi dalam mengelola emosi setiap hari, dan memiliki kemampuan mengubah emosi negatif menjadi emosi positif. Berbeda dengan partisipan dengan penurunan skro depresi terendah yang masih menggunakan mekanisme pertahanan diri untuk mengenali emosi, kesulitan untuk mengekspresikan emosi lisan maupun tulisan, cenderung tidak menerapkan teknik relaksasi setiap hari, dan belum dapat mengubah meosi negatif menjadi emosi positif, serta cenderung defensif dan tertutup dalam mengelola emosinya.



Sumber:

Akbar, Z., & Afiatin, T. (2009). Pelatihan manajemen emosi sebagai program pemulihan depresi pada remaja korban gempa bumi. JIP (Jurnal Intervensi Psikologi), 1(1), 107-124

Share with your friends:




The database is protected by copyright ©essaydocs.org 2020
send message

    Main page